Hidup dalam sebuah penantian panjang, memang tak selamanya indah. Apalagi yang dinanti adalah seseorang yang telah kita cintai dan kita sayangi. Pasti bayang-bayang dirinya akan selalu hadir dalam setiap aktivitas kita. Makan tak enak tidur pun tak nyenyak. Yang ada dipikiran kita tentu kapan orang yang kita cintai dan kita sayangi ini bisa hadir menemani.
Ditahun 2011 aku juga pernah mengalami kejadian seperti ini. Hidup dalam penantian panjang. Menantikan seseorang yang hatinya telah menjadi bagian dari hidupku.Aku memang kenal dengan seseorang yang telah mencuri hatiku lewat tatapannya yang pertama. Pendek kata aku mengenalnya dengan singkat. Hubunganku dengannya walaupun masih seumur jagung, tapi aku bisa merasakan cintanya padaku. Aku juga yakin dia juga merasakan hal yang sama sepertiku. Aku merindukannya, aku mencintainya.
Dia mengalami kecelakaan, kaki dan tangannya patah, akhirnya dia tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Sering kali aku menjenguknya kerumah, dia seperti kehilangan semangat, hal yang dia katakan selalu saja kalimat pesimis. Dia hawatir akan kesembuhannya.
Sesuatu yang sampai saat ini tak terlupakan olehku, saat aku menunaikan ibadah solat dzuhur di ruangan tengah rumahnya. Dia dengan kursi rodanya memimpin solatku kala itu. Saat itu aku tak menyangka dia menjadi imam solat dzuhurku. Rasanya aku tak mampu melukiskan rasa bahagiaku saat aku dengar suaranya menyebut lafaz Allah disetiap gerakan solatku. Tak terasa butiran-butiran bening menetes dan membasahi mukena yang ku kenakan. Aku berharap imamku tak tahu bahwa makmumnya sedang terisak tangis.
(Cuma karangan dari masa lalu, wajib untuk dilupakan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar